Hijau bumi Alam Lestari
 

Kupu-Kupu, ya, negara kita ini sering disebut-sebut memiliki jumlah kupu-kupu terbanyak kedua di dunia setelah Brasil. Totalnya sekitar 2.500 spesies. Bahkan untuk jenis endemik, dengan total jumlah sekitar 1.250 spesies (50%-nya), kita naik ke podium tertinggi di antara semua negara di muka bumi, hebat bukan!
Symbrenthia hypselis

Lethe confusa
Kupu-kupu memiliki peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem, yaitu sebagai pollinator dalam pembuahan bunga. Kupu-kupu juga merupakan serangga yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan, sehingga dapat dijadikan sebagai bioindikator lingkungan. Selain itu kupu-kupu merupakan serangga yang mempunyai nilai estetika yang tinggi, sehingga sering diburu oleh manusia untuk dijadikan koleksi atau sumber penghasilan. Satwa ini dapat juga diadikan sebagai salah satu daya tarik wisata.

Mengingat peranannya yang sangat penting di alam, maka kelestariannya di alam harus dijaga. Namun dewasa ini, keberadaan keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya kupu-kupu terancam oleh kegiatan manusia yang merusak alam dan merubah fungsi hutan menjadi persawahan, perkebunan, permukiman dan industri. Hingga saat ini sedikitnya 19 spesies kupu Indonesia telah terancam punah. Salah satu contoh mengenai nasib Papilio lampsacus, informasi terkini—pada tahun 2007 LIPI menyatakan bahwa spesies tersebut telah punah! sungguh miris mengetahuinya.

Green Community sebagai kelompok studi pecinta alam jurusan Biologi UNNES melakukan penelitian di kawasan wana wisata Curug Semirang, di kaki Gunung Ungaran. Obyek wisata ini memiliki luas sekitar 10 ha, sebagai daerah ekowisata, Curung Semirang cukup ramai dikunjungi. Namun, dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, sedangkan pengelolaan kawasan wana wisata yang kurang mendukung menyebabkan penurunan kualitas habitat yang ada. Penurunan kualitas ini menyebabkan mulai menurunnya populasi spesies di kawasan tersebut, khususnya kupu-kupu yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu penelitian dilakukan sebagai dasar memperoleh data awal tentang keanekaragaman jenis kupu-kupu dan mencoba mengenal mereka lebih dekat. 

Penelitian dilakukan di empat habitat berbeda di Wana Wisata Curug Semirang, yaitu habitat hutan sekunder, hutan heterogen, area terbuka dan DAS. 

 Berdasarkan hasil penelitian dijumpai sebanyak 86 jenis Rhopalocera dari 5 famili (Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae dan Hesperidae). Terdapat spesies kupu yang dilindungi di Wana Wisata Curug Semirang yaitu Troides Helena (SK Mentan No.576/ Kpts/ Um/ 8/ 1980; PP.No.7 Tahun 1999, dan termasuk ke dalam CITES Apendiks II). Hal ini berarti status jenis kupu-kupu tersebut belum terancam punah namun jika dieksploitasi berlebihan akan menyebabkan jenis kupu-kupu terancam punah. Selain itu terdapat pula spesies khas DAS yang ada di kawasan ini, yaitu Lamproptera meges yang termasuk famili Papilionidae.

sampai di lokasi Wana Wisata Curug Semirang

identifikasi kupu-kupu


  Troides helena
 Hasil analisis data menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu di tiap habitat berbeda-beda. Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman tertinggi dimiliki oleh habitat DAS, sedangkan indeks keanekaragaman terendah dijumpai di habitat hutan heterogen. Hal ini dapat disebabkan karena pada habitat DAS jenis tumbuhan yang tumbuh lebih beragam, yang berarti lebih beragam pula tumbuhan inang kupu-kupu yang terdapat di habitat ini. Selain itu, kupu-kupu lebih menyukai tempat yang lembab, karena mereka memerlukan nutrisi yang dalam hal ini adalah mineral-mineral yang biasanya dapat mereka peroleh dari pasir-pasir atau tanah yang terbasahi oleh air sungai tersebut. 

Lokasi pengambilan data di Wana Wisata Curug Semirang, Ungaran, Jawa Tengah





 Semakin banyak jumlah jenis kupu-kupu yang membentuk suatu komunitas, maka semakin tinggi keanekaragamannya. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa dominansi tertinggi pada habitat DAS dimiliki oleh Papilio memnon. Hal ini berarti bahwa spesies kupu-kupu Papilio memnon paling banyak ditemui di area tersebut dan mendominasi kupu-kupu lainnya. Dominansi tertinggi hutan sekunder oleh Eurema blanda, hutan primer oleh Lethe confuse dan area terbuka oleh Moduza procris dan Papilio memnon. 

 Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kupu-kupu dan kehidupannya, Hal ini dilakukan sebagai rujukan dalam pengembangan konservasi kawasan dan untuk melestarikan satwa khususunya kupu-kupu.

Untuk mempertahankan kekayaan biodiversitas Indonesia ini, sudah banyak upaya yang dilakukan. Namun tetap saja kehilangan kekayaan biodiversitas Indonesia masih tidak dapat dihindari. Rakyat yang notabene juga memiliki hak atas kekayaan kehati ini, sudah tentu memiliki andil kewajiban untuk ikut melestarikannya pula. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh seorang rakyat? Banyak. Kalau hanya mampu memberikan data, berikan. Kalau mampu mengolah fakta, lakukan. Kalau mampu mengambil tindakan, kerjakan. Karena manusia adalah bagian dari alam dan memiliki kekuatan untuk melindungi atau menghancurkannya.

Konservasi kehati, hijau bumi, alam lestari ! 

 Teks oleh Arinta Priliana Purwita 06/Rhyothemis’11/V Green Community UNNES

Posting Komentar

 
Top