Membumikan Zero Waste Lifestyle Saat Pandemi


Sudah menjadi rahasia umum bahwa wabah corona memberikan banyak dampak pada hampir semua aspek kehidupan. Pengurangan aktivitas di luar rumah dapat mendorong produksi sampah, seperti dengan maraknya belanja online. Dikutip dari zerowastecities.eu pandemi ini mengevaluasi kebijakan larangan penggunaan plastik sekali pakai karena sejumlah tempat usaha melarang belanja penggunaan wadah yang bisa digunakan kembali seperti tas kain. Hal ini berdampak dalam penerapan ekonomi sirkular, dari pengelolaan limbah hingga model bisnis baru untuk mencegah pemborosan. Beberapa negara juga mengubah cara mereka mengumpulkan dan mengolah limbah. Dalam sebuah webinar mereka mempertemukan para ahli limbah dan kesehatan untuk menilai dampak yang ditimbulkan oleh virus COVID-19 terhadap kebijakan dan strategi zero waste di Eropa.


Penumpukan sampah terlihat di beberapa ruas jalan Kota Denpasar, dua hari setelah Nyepi tahun 2020 ini, ketika masyarakat tidak beraktivitas sama sekali di luar rumah selama satu hari ditambah karantina hari pertama setelah pandemi. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia.

Namun pada kondisi seperti ini, beberapa orang yang sebelumnya sudah menjalani gaya hidup zero waste terpaksa harus merubahnya karena tantangan yang dihadapi. Salah satunya karena banyak anggapan bahwa yang sekali pakai itu lebih higienis. Namun itu tidak selalu betul terutama jika untuk penggunaan sehari-hari (bukan medis).

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk tetap menerapkan zero waste lifestyle di tengah pandemi:

1. Cuci Tangan Menggunakan Sabun Biasa

Mencuci tangan merupakan salah satu protokol kesehatan yang perlu kita lakukan. Namun saat mencuci tangan tidak perlu menggunakan sabun khusus yang mengandung antiseptic. Yakni cukup menggunakan sabun mandi yang ada di rumah. Karena biasanya, sabun cuci tangan dikemas dengan kemasan plastik atau gel pompa yang hanya akan meningkatkan jumlah sampah plastik dirumah dan akhirnya menumpuk di TPA jika kita tidak menggunakannya dengan bijak.

2. Gunakan Masker yang Dapat Digunakan Kembali dan Hindari Memakai Sarung Tangan dan Kurangi Penggunaan Tisu.

Reusable mask atau masker kain merupakan pilihan masker terbaik yang bisa digunakan, karena jauh lebih baik bagi lingkungan daripada masker wajah sekali pakai. Masker dari kain dapat dicuci dengan mesin, tetapi untuk opsi sekali pakai, setiap kali kamu membuangnya, kamu akan menghasilkan lebih banyak sampah. Bukan hanya itu, masker sekali pakai lebih dibutuhkan oleh tenaga medis. Selain itu banyak yang mengira, memakai sarung tangan mencegah penularan COVID-19. Memang benar, tetapi sarung tangan lebih diperuntukkan oleh tenaga medis. Dan seperti yang kita tahu, sarung tangan yang digunakan merupakan sarung tangan sekali pakai. Akibatnya sarung tangan tersebut hanya akan meningkatkan jumlah sampah yang juga akan berakhir di TPA. Begitupun dengan tisu, baik itu tisu basah maupun tisu kering. Sampah tisu juga menjadi salah satu sampah yang sulit didaur ulang. Alangkah lebih baik jika kamu mengganti penggunaan tisu dengan sapu tangan yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali (reusable).

Dikutip dari Mongabay, Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Diet Kantong Plastik, mengonfirmasi peningkatan limbah medis, karena penggunaan APD sekali pakai tenaga medis. Menurutnya, jika limbah medis ditangani sesuai prosedur penanganan limbah medis infeksius pada umumnya, seharusnya aman dan tidak perlu ditangani dengan cara berbeda dari limbah infeksius lainnya.

“Yang perlu lebih diwaspadai adalah limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga, misalnya masker atau sarung tangan. Di Indonesia limbah masker dari rumah tangga meningkat, dan sayangnya limbah tersebut tercampur dengan sampah rumah tangga lainnya,” ingatnya.

3. Buat Zero Waste Kit

Tips selanjutnya yaitu membuat zero waste kit. Dengan zero waste kit juga membantu kita terhindar dari infeksi COVID-19. Zero Waste Kit adalah seperangkat alat yang digunakan untuk mempermudah kita dalam hidup minim sampah. Alat-alat ini adalah alat-alat reusable yang dapat digunakan kembali karena sebetulnya yang paling higienis adalah yang kita bawa dan cuci sendiri dari rumah.

Nah apa saja yang harus ada pada kit? Atau peralatan apa yang perlu dibawa ketika ingin beraktivitas sepanjang hari? Beberapa ini adalah contohnya:

-Kotak makan untuk belanja makan.

-Tumbler untuk minum.

-Tas belanja untuk berbelanja.

-Sapu tangan untuk ngelap.

-Sendok garpu atau sedotan jika dibutuhkan.

Untuk beberapa peralatan diatas, kalian tidak perlu beli yang baru. Gunakan saja peralatan yang sudah kalian punya di rumah. Tidak perlu juga membawa semua peralatan tersebut. Tergantung kebutuhan dan karakter kalian sehari-hari, misalkan kalian suka ngopi bisa ditambah dengan membawa reusable cup.

Tiza Mafira mengatakan di Amerika terjadi penghentian sementara larangan kantong plastik sekali pakai, karena ada upaya dari asosiasi industri plastik untuk menyurati gubernur dan parlemen daerah dan meminta dilakukannya penangguhan sementara larangan kantong plastik sekali pakai. Tindakan tersebut bukan merupakan himbauan WHO maupun CDC (Center for Disease Control).

Kantong belanja penggunaan ulang tetap aman untuk dipakai, asalkan dicuci setelah digunakan. Demikian pula baju yang kita pakai perlu dicuci setelah kita pergi ke luar rumah. “Virus bertahan sekitar 2-3 hari di permukaan plastik, oleh karena itu apabila kita menggunakan kantong plastik, sebaiknya diberi disinfektan sebelum dibuang ke tempat sampah, agar tidak membahayakan petugas kebersihan,” urainya.

4. Perhatikan Cara Berbelanja dan Memesan Makanan.

Di saat pandemi, tidak sedikit yang memilih untuk #DirumahAja, dan banyak juga yang suka membeli bahan makanan atau makanan siap saji secara online. Tetapi untuk beberapa seperti supermarket, restoran dan take away, hal ini mungkin telah memicu kebiasan buruk seperti mengantarkan dalam kantong plastik atau menggunakan styrofoam.

Tentu hal ini menjadi peluang untuk menghasilkan jumlah sampah di rumah kan? Lalu bagaimana solusinya? Alangkah lebih baik jika kamu pergi keluar sendiri dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan membawa perlengkapan belanja sendiri (membawa tempat makanan dan tas belanja sendiri). Kalaupun terpaksa sekali untuk memesan melalui ojek online, jangan lupa untuk menulis pesan hijau “Pak tolong jangan menggunakan kresek” atau “Pak tidak perlu sendok garpu plastik” dan lain lain.

5. Pemilahan Sampah

Pemilahan sampah harus tetap dilakukan karena dalam situasi saat ini jika sampah tidak terpilah para petugas akan semakin rentan tertular virus. Warga melakukan pengomposan mandiri agar meringankan beban para petugas.

Sampah infeksius perlu dipisahkan secara khusus. Sebelum dibuang sebaiknya di potong-potong kecil terlebih dahulu supaya tidak digunakan kembali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Setelah dipisahkan diberi label “sampah infeksius” tujuannya agar petugas dapat berhati-hati dalam proses pengambilan dan pengolahan.

Sampah jenis itu harus disimpan dengan kantong tertutup dengan diberikan label khusus. Bila tidak ada layanan pengangkutan sampah infeksius, maka simpan minimal 7 hari agar virus mati. Penanganan sampah infeksius atau medis rumah sakit di masa pandemi corona harus mengacu prosedur operasional yang dikeluarkan kementerian kesehatan. Alat Pelindung Diri (APD) setelah digunakan harus disterilisasi atau dibersihkan dengan penyemprotan disinfektan.

Nah selama pandemi ini, hal apa yang belum kamu lakukan? Yuk mulai dari sekarang. Semoga bermanfaat.

 

Sumber:

mongabay.co.id

zerowaste.id

zerowastecities.eu

1

Membumikan Zero Waste Lifestyle Saat Pandemi Membumikan Zero Waste Lifestyle Saat Pandemi Reviewed by Green Community on 05.09.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.