TYTO ALBA “SI PENGENDALI TIKUS” SAHABAT PETANI

 



Gambar Tyto alba (Scopoli, 1769)

Tahukah kamu kalau burung hantu bisa menjadi pengendali tikus yang sering menjadi hama untuk petani? Burung hantu lumbung/burung hantu gudang/serak jawa yang memiliki nama ilmiah Tyto alba merupakan burung hantu yang makanan spesifiknya berupa 99% tikus dan 1% serangga. Dalam sehari, burung hantu ini mampu memakan tikus sebanyak 2 – 3 ekor dan berburu tikus lebih dari jumlah yang dimakannya. Tyto Alba memiliki cara yang unik dalam memakan mangsa yaitu dengan melahap habis mangsa yang berukuran kecil secara utuh dan untuk mangsa yang berukuran besar dia akan memotong tubuh mangsa menjadi 4 – 5 bagian. Daging mangsa yang lunak akan dicerna oleh burung hantu  sedangkan bulu-bulu dan tulang dari mangsa akan dikeluarkan/dimuntahkan kembali dalam bentuk pellet (regurgitasi). Keluarnya pellet juga menjadi penanda bahwa burung hantu siap untuk makan dan mencerna mangsa kembali.

Gambar regurgitasi pada Tyto alba javanica (J.F. Gmelin, 1788)

Tyto alba memiliki kemampuan berburu yang tinggi, cekatan dan sangat tangkas ketika menyambar maupun mengejar tikus yang berlari di atas tanah. Tyto alba memiliki lapisan lilin pada sayapnya sehingga tidak bersuara saat menyambar mangsa. Tak hanya itu, Tyto alba juga memiliki daya penglihatan dan pendengarannya sangat tajam terutama pada malam hari sehingga dia mampu mendengar suara tikus sejauh 500 meter.

Tyto alba memiliki ciri khas yang unik dan berbeda dari spesies burung hantu yang lain. Karakteristik tersebut berupa ukuran tubuh yang besar  (34 cm) dengan wajah yang berbentuk love (hati), mata bulat, dan warna putih dengan tepi coklat. Tyto alba memiliki bulu sayap atas dan punggung yang berwarna abu-abu cokelat kekuningan, bulu dada berwarna putih, dengan bulu leher betina berwarna kuning sedangkan jantan berwarna putih dengan bintik hitam. Selain itu, Tyto alba betina berukuran lebih besar dan berta dibandingkan jantan. Tyto alba betina mampu bertelur sebanyak 4-11 butir selama periode bertelur 4,5 – 5,5 bulan sekali dengan kemungkinan menetas hingga 50%. Induk mulai mengeram mulai telur 3 – 4 dan masih bisa melakukan perkawinan kembali untuk menambah telur. Setelah 30 hari mengeram, telur akan menetas dan saat berumur 2,5 – 3 bulan anakan tersebut akan memisahkan diri dari induk. Tyto alba merupakan burung yang setia terhadap pasangannya dan dapat hidup hingga 4,5 tahun. Tyto alba  sering dijumpai di bangunan tua dan gedung yang tinggi serta bersarang di dalamnya. Akibatnya, telur akan mudah jatuh dan burung akan diburu atau ditembak.

So, karena kamu sudah mengetahui karakteristik dan manfaat dari burung hantu Tyto alba untuk mengendalikan hama, jadi ketika menjumpai burung hantu ini kamu bisa menjaga dan merawatnya demi keseimbangan alam! Sekian, Salam Lestari!

Referensi gambar

-        https://www.gbif.org/occurrence/gallery?taxon_key=2497921

-        https://www.gbif.org/occurrence/gallery?taxon_key=6176290


Maya Nursai’dah (NTA.17/Manis’19/XIII/GC)

 

TYTO ALBA “SI PENGENDALI TIKUS” SAHABAT PETANI TYTO ALBA “SI PENGENDALI TIKUS” SAHABAT PETANI Reviewed by Green Community on 06.46.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.