Menapak Prau: Perjalanan Green Community Mengumpulkan Data Keanekaragaman Hayati


Gunung Prau tidak pernah menyambut dengan cara yang sama. Setiap kedatangan membawa suasana yang berbeda, kabut yang turun cepat, matahari pagi yang hangat, atau hujan tipis yang tiba tanpa aba-aba. Bagi Green Community Universitas Negeri Semarang, pengambilan data keanekaragaman hayati di Gunung Prau bukan sekadar kegiatan lapangan, melainkan sebuah perjalanan panjang untuk belajar memahami alam secara perlahan dan penuh kesadaran.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari Swara Owa, serta pendampingan dan dukungan lapangan dari komunitas lokal Garda Prau dan Akar Banir. Sejak awal, kolaborasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan ini.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalur pendakian dan kawasan hutan untuk mengenali karakter Gunung Prau secara menyeluruh. Tim GC berjalan tanpa target data yang kaku, melainkan dengan tujuan membaca lanskap: bagaimana struktur vegetasi berubah di setiap ketinggian, bagaimana aliran air membentuk mikrohabitat, serta bagaimana aktivitas manusia berinteraksi dengan ruang-ruang alami. Tahap awal ini menjadi proses menyesuaikan diri antara rencana di atas kertas dan kenyataan di lapangan.

Seiring waktu, kegiatan lapangan mulai membentuk ritmenya sendiri. Tim kembali ke Gunung Prau dalam beberapa kesempatan berbeda, menyusuri jalur yang sama, mengamati titik yang sama, dan mencatat perubahan-perubahan kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Pengamatan serangga dilakukan ketika matahari mulai naik dan kupu-kupu bermunculan di antara semak dan bunga liar. Di lain waktu, pengamatan dilakukan di area yang lebih lembap, menyusuri aliran air, bebatuan, dan lantai hutan yang licin untuk mencatat keberadaan herpetofauna.

Cuaca pegunungan menjadi bagian dari cerita lapangan. Kabut sering kali datang tanpa peringatan, membatasi jarak pandang dan memaksa tim memperlambat langkah. Hujan yang turun di tengah pengamatan membuat catatan lapangan harus dijaga tetap kering, sementara suhu dingin malam hari menguji kesiapan fisik dan mental. Namun, dalam kondisi seperti itulah tim belajar bahwa penelitian lapangan tidak selalu ideal, dan justru di sanalah proses belajar berlangsung.

Di tengah rangkaian pengamatan tersebut, tim memasuki fase yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran lebih yaitu pemasangan camera trap. Proses ini tidak dilakukan secara terburu-buru. Setiap lokasi dipertimbangkan dengan matang melihat jejak satwa, jalur lintasan alami, serta kondisi habitat di sekitarnya. Diskusi dengan Garda Prau menjadi bagian penting dalam menentukan titik pemasangan yang tepat, aman, dan tidak mengganggu aktivitas satwa.

Setelah camera trap terpasang, tidak ada hasil yang bisa langsung dilihat. Ada fase menunggu, kembali ke lapangan untuk pengecekan, memastikan alat tetap berfungsi, dan kembali menunggu. Fase ini mengajarkan bahwa penelitian tidak selalu tentang bergerak aktif dan mengumpulkan temuan, tetapi juga tentang memberi waktu dan ruang bagi alam untuk menunjukkan dirinya.

Ketika tiba waktunya pengambilan camera trap, momen tersebut menjadi salah satu yang paling dinanti. Data yang terekam bukan hanya sekadar gambar atau video, tetapi potongan cerita dari hutan Gunung Prau cerita yang tidak selalu bisa disaksikan secara langsung oleh manusia. Rekaman ini kemudian melengkapi catatan lapangan yang telah dikumpulkan sebelumnya, menyatukan berbagai potongan informasi menjadi gambaran ekosistem yang lebih utuh.

Selama seluruh rangkaian kegiatan, peran komunitas lokal terasa sangat kuat. Garda Prau tidak hanya mendampingi dari sisi jalur dan keamanan, tetapi juga berbagi pengetahuan tentang dinamika kawasan dan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Akar Banir turut mendukung dari sisi logistik dan jejaring lokal, memastikan kegiatan lapangan dapat berjalan dengan lancar. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa penelitian di alam tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan manusia yang hidup dan menjaga kawasan tersebut.

Bagi Green Community, perjalanan ini jauh melampaui tujuan pengumpulan data. Setiap langkah di jalur pendakian, setiap pengamatan yang dilakukan, dan setiap diskusi di lapangan menjadi bagian dari proses membangun kepekaan ekologis. Gunung Prau mengajarkan bahwa alam tidak bisa dipahami secara instan, dan bahwa menjaga keanekaragaman hayati dimulai dari kesediaan untuk hadir, mendengar, dan berjalan dengan rendah hati.

Gunung Prau masih memberi ruang bagi kehidupan satwa, tumbuhan, dan manusia. Melalui perjalanan ini, Green Community belajar bahwa tugas kita bukan hanya mencatat apa yang ada, tetapi juga memastikan ruang hidup itu tetap terjaga, hari ini dan di masa depan.

Menapak Prau: Perjalanan Green Community Mengumpulkan Data Keanekaragaman Hayati Menapak Prau: Perjalanan Green Community Mengumpulkan Data Keanekaragaman Hayati Reviewed by Green Community on 02.37.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.